Sunday, November 15, 2009

Allah dan Iman

Semalem akhirnya tergoda juga aku menonton 2012. Belum juga puas, sesampai rumah kulanjutkan nonton Knowing-nya si Nicholas Cage. Eh dasar orang sok tau...belum puas lagi kulanjutin dengan dengerin Song For Gaza sesudahnya. Merenungi apa yang sudah aku lakukan dalam dunia yang diberikan Tuhan padaku.

Efek beratnya, akupun terbangun dini hari tadi dengan gelisah. Bersujud dengan si Empunya hidup sampai subuh terlewat. Namun tak juga penuh konsentrasiku pagi ini. Laptop di atas meja belajar di depanku tak terlalu sering tersentuh tutsnya tadi. Aku mencetak artikel-artikel yang perlu kupahami sebelum kamis depan, mencoba membaca. Namun makna, pemahaman tak mampir di sudut tempatku duduk pagi ini. Benakku bermain ke sana kemari. Bak anak kecil nakal berlari-lari di atas permadani hijau tua, di antara rak-rak buku. Seperti anak kecil, yang ikal rambut, gemuk pipi dan kerling nakalnya mengingatkanmu akan sesuatu. Sesuatu yang tak ada di sini.

Dan aku mulai dalam kebiasaanku untuk menyelesaikan kegelisahanku dalam diam bersamaNYA.. Meski aku coba juga mencairkan suasana, namun kelu dan kaku hati sendiri susah diajak bercanda. Perkara gelisah dan risau atas apa yang aku liat di dunia ini rupa-rupanya masih punya harga tersendiri bagiku: adakalanya enggan ia berbagi tempat dengan sisi ringan hidup macam canda dan ketawa.

Waktu bergerak dengan semakin seringnya aku bertanya padaNYA.. Pertanyaan yang tak terelakkan dan terus bermunculan: "Apa ini sebenarnya Tuhan"

Hhh.. adakalanya aku bisa mengerti. Dan aku pun menyadari.. siapapun mungkin juga akan menanyakan hal yang sama. Bukankah manusia sudah menanyakan hal yang sama sejak lama tentang apapun padaNYA??!! Sebagian umat bahkan kehilangan imannya karena pertanyaan macam ini seolah tak terjawab: membal di hadapan dinding bisu realitas.

Dalam bahasa dillema David Hume: Tuhan Yang Maha Baik tidak akan membiarkan manusia yang dikasihiNYA menderita. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mampu mencegah penderitaan (seperti bencana alam, atau kanker) menimpa manusia yang dikasihiNYA. Kalau pada kenyataannya kita melihat begitu banyaknya manusia yang menderita (oleh bencana alam, perang ataupun penyakit), apakah artinya Tuhan tak Maha Kuasa atau Tuhan tak Maha Baik?

Hmm aku tak sedang ingin berpanjang argument dengan akalku untuk menyanggah Hume, meski aku pikir banyak yang bisa dikritik dari premis-premis dillema Hume itu. Adalah satu hal untuk bicara filsafat di kelas, di forum terbuka di antara kontributor yang sama-sama hobi berpikir sambil serupat-seruput kopi hitam tanpa gula. Namun ada hal lain yang lebih penting bagiku…melakukan hal yang selama ini biasa ku lakukan… untuk memikirkan dan merenungkan masalah ini di hadapanNYA secara langsung.. hanya denganNYA..

Aku tak punya kata-kata bestari buat diriku sendiri dalam hal ini... Tak ada insight istimewa dari akalku yang mampu menerangi keadaan saat ini. Dari tempat jiwaku berdiri, tak ada jawaban, searif apapun, dari masalah Theodisi ala Hume di atas yang bisa bikin kegelisahanku lebih sumringah. Ironis. Kadangkala kita sebagai manusia iseng memformulasi masalah praktis jadi problem filsafat, dan kita kutak-katik problem tadi dengan logika. Namun ketika problem filsafat tadi terterjemahkan kembali sebagai masalah praktis, logika tak memberi penghiburan.

Yang selalu terbersit dalam benakku justru ini: terus berdoa agar iman ini tak pernah goyah di hadapan pertanyaan oleh akalku.. di titik ini aku bisa mengerti mengapa Marx melihat agama sebagai Opium des Volkes. Opiumnya masyarakat kebanyakan. Buat mereka yang melihat diri sebagai umat yang tercerahkan, pasti aneh pemikiranku itu: terus menerus berdoa untuk kuatnya pondasi doa kita kepada Oknum yang keberadaannya sedang dipertanyakan oleh situasi yang bikin kita berdoa...

Namun bukankah itulah iman? Bukti dari segala yang tidak kita lihat? InsyaALLAH.. Bukankah dalam kukuh dan yakinnya untuk tetap berdoa dan berserah bahkan ketika Subyek Agung di seberang sana sedang dipertanyakan kebaikan dan kemahakuasaanNYA, kita justru bisa melihat iman??!

Memang belakangan ini banyak tersua olehku berbagai varian dari pertanyaan (yang sekaligus pernyataan) tentang hidup… tentang manfaat diri dilahirkan dalam dunia yang diberikan Tuhan ini… Dan kemudian pikirku lagi: "Bukankah tak semua pertanyaan mesti berjawab?"

Rasanya kok absurd sekali untuk membenarkan seluruh keingintahuan kita yang serba genit dan seringkali mbulet tak berdasar logika itu dengan pertanyaan (pernyataan?) sok bijak serba universalis macam di atas.

Gelisah karena dengan membenarkan diri macam demikian, sebenarnya manusia tengah menyerah kepada misteri, padahal Yang Maha Misteri sendiripun menjanjikan bahwa pada saatnya semua pertanyaan akan dijawab.

"Bukankah tak semua pertanyaan mesti berjawab sekarang juga?"

Mungkin itu koreksi versiku.
Yang punya konsekuensi untuk terus berikhtiar bertanya, dan hidup dalam ketegangan mencari jawaban. Termasuk jawaban atas apa yang terjadi dan aku rasakan saat ini..

Meyakini CintaNYA Yang Sempurna.

Bahwasanya AKU adalah apa Yang HambaKU pikirkan :)

Sunday, October 25, 2009

Dilema cinta









Hmm cinta itu apa sih? Demikian aku pernah bertanya. Mungkin anda juga? Mungkin tiap manusia pernah punya itu tanya di kepala, one time or another? Aku sih nggak lagi mau nanya-nanya lagi. Aku lagi mau nyinyir soal satu dilema yang diilustrasikan dengan lumayan baik oleh pertanyaan 'cinta itu apa sih?' tadi.

Pikirku agak tersentil dilema yang dialami manusia antara 'memahami' dan 'mengalami'. Ku pikir, itu dia masalahnya dengan upaya untuk menjawab 'cinta itu apa sih?'. Manusia, aku pernah baca, punya setidaknya dua moda untuk memamah satu fenomena. Benak kita bisa membedah satu fenomena jadi pecahan kecil-kecil, dianalisa, dideskripksikan, dikategorisasi. Sementara itu, manusia bisa pula 'sekedar mengalami' satu fenomena. Dan dilema antara keduanya adalah, seringkali ketika kita mencoba memahami suatu fenomena, semakin analitik benak kita pergi, semakin nggak sesuai fenomena tadi dengan pengalaman sendiri. Di pihak lain, ketika kita mengalami sesuatu, pemahaman sering kali absen, bahkan terasa tidak perlu. Di banyak kesempatan, pemahaman bahkan terasa mereduksi makna fenomena tadi bagi diri kita.

Makanya manusia bakal terus bertanya 'cinta itu apa sih?' tanpa pernah menemukan rumusannya yang paling pas. Kita tahu, paham, apa cinta itu justru ketika kita jatuh cinta. Bukannya ketika kita sedang duduk dan berpikir tentang cinta. Bahkan mereka yang sedang jatuh cinta pun kukira akan selalu merasa deskripsi mereka sendiri akan cinta sebagai sesuatu yang feeble, inadequate, nggak cukup dan nggak sepenuhnya menggambarkan keseluruhan emosi dan stimulasi lain yang tengah mereka rasakan. Mungkin karena itu kita kemudian mencipta alegori, puisi, lagu, lukisan, mitos. Cinta, seperti halnya banyak fenomena lain, pada akhirnya paling dekat digambarkan melalui media abstrak, bukan prosa kering ala berita pagi.

Untuk memperlihatkan bahwa cinta bukan satu-satunya fenomena macam ini, coba aja definisikan apa itu 'lucu'. Ditanggung bingung. Lucu itu apa sih? Kita paling tahu lucu itu apa pas kita kemekelen karena denger atau nonton sesuatu yang 'lucu'. Tapi pas disuruh menjabarkan apanya yang lucu dari fenomena yang baru saja mas tertawakan? Well, aku sih kadang nggak bisa.

Yang segera terlintas di kepala ku adalah celoteh seorang teman jaman sekolah menengah dulu, kira-kira begini lah, "Yang bikin deg-degan itu bukan pacarannya, tapi proses menuju jadiannya itu lho!".. dasar bocah SMA! Tapi mungkin ada kebenaran dalam celotehnya, hahaha..

Hmm, kalau mau diekstrapolasi menjauh dari mimpi romantis anak ingusan, bunyinya jadi semacam ginilah: "Yang menyenangkan mungkin bukan pernikahannya, tapi proses menuju pernikahan itu sendiri". Pas sudah saatnya bersama komitmen... well, cold feet dulu ajalah. Dan kitapun jadi bingung, kok kayanya dulu termimpi-mimpi pengen bareng-bareng ama seseorang pas seseorangnya udah mau diajak bareng-bareng kok kitanya jadi grogi ya? Hahaha…

Because "..we love the longing more than the fulfillment." mungkiinnn :p

Observasi serupa sebenarnya tercermin juga dari adagium populer: yang penting bukan hartanya, tapi petualangan mencari harta itu sendiri. Entah sudah berapa film atau buku ditulis berpenutup demikian.

Uncertainty. Juga keragu-raguan. Doubt. Betapa pentingnya ketidakpastian dan keragu-raguan dalam merangsang manusia untuk terus jadi dinamis dalam menjelajahi fenomena 'natural', untuk ‘belajar’ sesuatu, untuk jadi lebih ‘bijak’..hehe... aku jadi ikutan cengengesan. Patah dan hancur hati memang bukan sesuatu yang ingin aku alami lagi. Tapi cengengesan di depan sesuatu yang terbayangkan secara kolektif sebagai pengalaman super mengerikan terasa sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh banyak orang belakangan ini.

Banyak yang berpikir bahwa cengengesan berarti tidak serius. Kupikir kita bisa serius sambil tetap menjaga humor diri. Ini masalah sudut pandang. Kelegaan hati untuk menggeser tempat duduk dalam gedung teater besar bernama hidup memang sering mengijinkan diri untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tertutupi, entah oleh ego atau emosi sendiri. Manusia tidak lahir dengan mengingat masa depan, kita mengingat apa yang sudah lewat. Apapun yang terjadi hari ini baru akan kita mengerti sungguh makna dan tempatnya ketika suatu saat di masa depan kita menengok ke belakang dan melihatnya dalam konteks yang lebih utuh.

Merasa tidak pasti dan ragu-ragu ini sama halnya dengan ketidakpastian dalam sains yang bisa jadi sumber ketidaknyamanan, sebagian karena para pekerja sains senang menipu diri dengan menyebut bidang mereka sebagai ilmu pasti. Namun ketidakpastian dan keragu-raguan lah yang mengantarkan ke meja kita sekarang aplikasi-aplikasi teknologi menyenangkan macam I-Pod dan lebih penting lagi: penemuan-penemuan tentang natur alam macam, well, fakta bahwa bumi bulat dan berperilaku sesuai serentet rumus matematis.

Makanya, pas baca kalau ada pihak-pihak yang sedang bekerja untuk membuat wiki text book, hatiku bungah pisan. Dan ternyata pas ku buka, ini proyek (tentu saja) bukan barang baru.. hahaha, akunya aja yang ndeso! Ada berbagai teks ilmiah yang tersimpan di sana. Dari pengantar paleoanthropologi sampai sejarah Eropa. Sudah saatnya memang pengetahuan dikembalikan ke ranah publik dan bukannya tersandera di antara tembok-tembok institusi pendidikan tinggi, hahaha

Hhh…. Malah lari kemana-mana aku ini, hahaha…

Hmm kembali ke soal cinta… menurutku patah hati memang tidak nyaman hari ini. Entah apa yang akan keluar darinya besok-besok, jika kita menyediakan diri untuk tidak melulu bergumul dalam emosi dan ego sendiri. Jika kita bersedia untuk berlega hati cengengesan dengan anggunnya di hadapan cobaan ini. :)

Selalu ada humor dalam setiap tragedi. Seperti halnya ada tragedi dalam tiap humor. Pada akhirnya, seperti dalam komik keren besutannya Alex Ross: Watchmen, the comedian adalah ia yang memahami hidup dalam segala keabsurdannya, dan melalui pemahamanan itu, memilih untuk tertawa dan memperlakukan hidup seperti adanya: campuran antara drama, tragedi dan komedi.

Hehehe… kacau yaa… aku sebenarnya mau nulis apa sih.. ge jelas juntrungnya begini :p

Thursday, October 8, 2009

Garis melengkung yang meluruskan banyak hal ...











Sujud syukur kami padaMU ya Rabb,
atas semua pemberianMU,
yg selalu saja KAU murahkan untuk kami,
atas nafas hidup,
atas segala metafora kehidupan,

atas kesederhanaan sebuah senyuman,
menjadi sebuah garis melengkung yang meluruskan banyak hal.

:: Have a nice day every one, smile smile :) ::

Monday, August 17, 2009

Live is supposed to be lived, not reported

Sampai kapan pemikiranku masih berputar dalam satu lingkaran ini.
Sampai-sampai sangat enggan mengupdate blog ini....
Well, life is supposed to be lived, not reported.
Setidaknya untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan, entah sampai kapan.

Saturday, April 25, 2009

Nikmat bernama buku

Wiken ini kuhabiskan waktu untuk membaca.
terkadang terdiam,
tertegun,
pun tercengang,
sejenak masuk dalam labirin autistik membaca.
menjelajah relung pemikiran serba iseng,
momen indah yang sayangnya akhir-akhir ini sangat jarang menghampiri.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buatku buku layaknya seorang tua, sang bijak berjanggut putih panjang yang ingatannya lebih purba dari selimut salju Alpen. Hikayat, legenda dan cerita perjalanan ada terukir pada asap yang mengepul dari pipa panjangnya, lagu dan mitos menari riang mengelilingi kursi goyangnya, bersama harum citrus dan kayu manis.

Buku adalah juga kotak harta, kotak harta yang seperti apapun juga. Peti berdebu di loteng berlantai kayu. Kotak kecil baja yang terangguk-angguk dibawa arus ke pesisir pantai, bau ganggang dan memori akan malam berbadai di mana kapal karam terbawa bersamanya. Atau koper tua yang lama terlupa di salah satu gudang dermaga. Di mana surat-surat cinta, catatan harian tua, dan peta harta berdiam menanti ditemukan seseorang.

Buku adalah setapak bercecabang hutan Bavaria, yang sarat dengan jejak kurcaci dan para peri, ceruk di mana selop kayu Hans dan Gretel meninggalkan bekasnya. Atau hutan hujan tropis, di mana Dian Fosey belajar mengeja bahasa gorila, dan Edward O. Wilson menulis sejarah semut-semut. Hutan yang kaya akan kejutan, ketakjuban baru di tiap tikungnya.

Itulah membaca dan buku buatku. Sebuah petualangan. Oleh karena itu, buku yang tak bisa dibaca berkali-kali tanpa menemukan sesuatu yang baru dalamnya, sesungguh-sungguhnya adalah buku yang tak pantas dibaca. Tak pantas dibaca, bukannya tak pantas ditulis. Siapa juga boleh menulis apapun juga yang terlintas di kepalanya. Itu asasi, kukira. Lagipula, tak semua menulis untuk dibaca. Banyak pula yang menulis untuk bertanya, untuk mencari, untuk menjelajah. Dan tulisan macam demikian, sering tak terelakkan, kemudian jadi bercabang-cabang, tak terstruktur (tak dimaksudkan untuk jadi terstruktur dan memang tak pernah terencana untuk dibikin koheren), dus terkadang membingungkan juga tak nyaman dibaca. Blog ku ini contoh mudahnya.

Well, itu intinya. Seperti halnya persahabatan, bukupun tak akan pernah menjemukan buatku..

:: Have a nice weekend every one .. ::

Friday, April 24, 2009

Lorong waktu

Akhir bulan ini saya dijadwalkan untuk mengirim makalah presentasi. Sahabat baik saya yang sedang ambil PhD di Taiwan menawarkan waktu satu bulan penuh untuk mempersiapkan ini semua. Peserta nantinya akan diberikan kehormatan untuk mempresentasikan sepenuh pengetahuan mereka di subyek ilmu yang bersangkutan. Di kasus saya, dengan keadaan konsentrasi yang sedang kurang fokus macam sekarang ini, berarti harus ekstra siap memeras semua pengetahuan yang saya miliki, dan juga menumpahkannya secara sempurna dalam sekejap. Pwufff…. Setengah mati menjalani ini semua ... Alih-alih meski nggak lebih dari lima lembar makalah .. tapi sampai detik inipun saya belum tau mau nulis apa dan mulai darimana..

Sebenarnya beberapa minggu panjang belakangan ini saya mencoba untuk mempersiapkan diri, tapi jadi sangat tidak fokus lantaran ada rencana ngawur yang saya selipkan dalam rencana besar hidup saya. Tiba-tiba saja asal bikin agenda belajar tahun ini, tanpa persiapan matang dan tanpa sepenuhnya memahami pentingnya faktor timing.. Wuihhh, bener-bener spontanisme yang keliru. Well, meski separuh nafas ingin terbang bebas menghirup ilmu seutuhnya dan lepas bebas dari kungkungan aktivitas yang mulai terasa sangat statis.. namun tidak sepantasnya melarikan diri dari kejenuhan dengan cara begitu itu. Toh kenyataannya separuh nafas saya yang lain justru berteriak kalau timingnya belum tepat saat ini. Terlalu banyak kesempatan yang akan terbuang sia-sia. Terlalu beresiko juga mengingat kemungkinan kalau kepakan sayap nantinya tak bisa sepenuhnya bebas lepas. Alhasil nalar dan naluri pun membawa saya kembali menelusuri lorong waktu, menunda keinginan terbang lepas.. setidaknya untuk satu tahun ke depan.

Yang membuat saya terkejut, ternyata saya kok merasa baik-baik aja ya dengan itu semua. Tetap melenggang dan menikmati segala sesuatu dalam hidup, tentu saja termasuk spontanitas ngawur yang nyaris bikin kacau itu tadi.. Kind of a joke, really. How can you expect to rehearse all things you ever taken in your academic life?

Dan di tengah aktivitas ala Sisifus ini terbersit satu pertanyaan di benak saya. All this hard knowledge and then what? Dalam bayangan saya, seperti halnya mendaki Everest, pertanyaan bodoh macam ini bisa diikuti sampai dua kemungkinan konklusi berbeda: kemungkinan begitu luas bisa bikin hati kelu, kaki lemas, hilang selera; namun bisa pula bikin diri bergegas dan tangan gatal tak sabar. Sungguh, jarang ada sesuatu yang lebih membakar semangat dari pada kesempatan tanpa batas, seperti halnya jarang ada hal lebih menakutkan dari pada kesempatan tanpa batas. Uniknya, saya temukan keduanya tak saling eksklusif.







Dalam hidup, setiap insan mungkin punya kerinduan untuk jadi abadi. Menelusuri lorong waktu,meninggalkan jejak. Untuk diingat. Untuk tetap hidup meski tak lagi menapak bumi. Ini dilogikakan karena sebagai manusia yang terbatas adakalanya tergoda untuk jadi nggak tahu diri dan kepengen jadi nggak terbatas.

Saya sendiri lebih sreg dengan pendekatan yang lain: kita punya kerinduan untuk jadi abadi karena emang 'dari sono'nya punya keinginan untuk jadi abadi. Tapi segala yang kita lihat di dunia kasad mata ini bicara lain: perang, bencana kelaparan, penyakit, semua seolah membisikkan pesan ke jiwa manusia tentang kesementaraan, kerentanan hidup. Dan kita pun harus ikhlas untuk jadi 'insyaf', untuk mengkonformasi diri ke 'kenyataan' yang tiap hari melingkupi hidup. Bahwa hidup emang cuma 'mampir ngombe'. Hati, roh, yang dicipta untuk jadi abadi, terkungkung oleh lingkungan informasi yang seragam berteriak tentang kesementaraan. Maka kita pun beraspirasi untuk jadi abadi dengan cara apapun. Menulis, berderma, berusaha melakukan sebanyak-banyak kebaikan. Mengingat bahwa ada kehidupan lain setelah ini, bahwa kita hidup, kita ada, semua tidak lain karena anugerah dariNya semata. Dan saya yakin, Yang Maha Memberi yang telah mengatur segala sesuatunya ini, menyiapkan kapan waktu yang terbaik untuk kita menjalani scenario dalam hidup ini. Dan riak – riak dalam hidup bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita lalui dengan tegak.

Setidak-tidaknya dari sesuatu yang tertunda itu ada hikmah besar yang bisa dipetik. Bahwa aktivitas yang kita jalani selama ini nggak selamanya berada dalam jalan yang lempeng dan mulus, justru dengan tikungan yang menunggu di depan membuat segala sesuatunya lebih hidup. Dan dengan semua kejadian yang ada - membuat kita kembali untuk berpikir ulang; dan menjalani aktivitas - bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau kepentingan sebuah lembaga; atau sekedar mengisi waktu dan menebalkan kantong sendiri.

Berhenti melakukan rutinitas autistik.
Dan tidak lagi menjadi insan robotik yang melakukan aktivitas rutinitas tanpa tujuan hakiki yang bisa dipertanggungjawabkan secara moralitas pada masyarakat.

Mungkin nggak semua insan sepenuhnya setuju dengan pilihan ini. Dan sah-sah saja menurut saya, toh ini ranahnya masuk asasi perseorangan. Tapi saya pikir, hal-hal yang sebagian kita lihat sebagai 'vain attempts', hal-hal yang ditertawakan oleh mereka yang mengklaim posisi moral: meninggalkan jejak dengan cara apapun juga, buat saya adalah bukti dan sumber pengharapan bahwa manusia tidak dicipta sekedar untuk 'mampir ngombe'. Tapi juga beraktivitas, berkarya, bermanfaat bagi sesama. Berpijak di bumi, menelusuri lorong waktu dengan segenap pemikiran positif. Bahwa apa yang diberikan olehNya ini sangatlah luar biasa. That's it. That's reality for you.

Wednesday, April 22, 2009

Earth day in my heart

------------------







Go Indonesia !
With a great resources (and number of islands, and number of people, and long sad history of struggle ...) comes great responsibility (to at least, stand on your own feet) !!!

:: Earth Day, 22 April ::

Thursday, March 5, 2009

Mendefinisikan diri sendiri

Akhir-akhir ini kok benak saya sering terjebak dalam analisis intuitif tentang berbagai hal ya?! Beberapa saat mengamati berbagai kondisi sosial ekonomi yang carut marut disekitar saya, kadang bikin benak saya berpikir dan bertanya-tanya. Mungkin juga bukan sekedar kondisi yang memang sedang tak menentu, tapi mungkin benak saya ini (yang defaultnya dari sana emang tersetting multitasking) yang justru otomatis jadi berpikir. Sulit mendefinisikan diri sendiri dalam kondisi seperti ini. Ketika menyadari kalo sesungguhnya apa yang dilakukan ternyata tak sepenuhnya sistematis.

Saya kadang merasa kagum sama orang-orang yang dari bicara atau tulisannya tercermin terang kelompok budaya dimana mereka berdiri. Seperti Pramoedya, misalnya. Sedangkan saya, paling nggak bisa mendefinisikan diri sendiri. Polah pikir senantiasa nggak bisa selalu di mode sistematis. Bukan sekedar nggak selalu sistematis, saya juga paling nggak bisa diminta memastikan diri untuk berdiri bagi satu sistem nilai. Well, saya punya nilai-nilai yang saya yakini (dan saya coba untuk konsisten berjalan di dalamnya), tapi kok rasa-rasanya itu nilai sama sekali nggak cocok untuk diklasifikasi ke salah satu kelas nilai klasik yang dikenal khalayak yah ...

Contohnya, saya ini seorang agamis dan memahami segala bentuk pemikiran tentang pengharaman teori sains yang selintas lalu nampak berlawanan dengan keMahaan Tuhan, evolusi misalnya. Namun di lain pihak, saya juga punya keyakinan pada sains, bahwa sains akan membawa manusia lebih dan lebih jauh lagi dalam eksplorasinya di mayapada ini. Dan punya keyakinan pada sains, bagi saya bukan berarti menafikkan sepenuhnya alam lain yang nggak bisa dijelaskan oleh logika sains, bahwa surga itu ada misalnya. Atau bahwa kematian bukanlah titik selesai dari perjalanan seseorang. Senantiasa menghindari pengkotakan. Karena di setiap 'kotak' yang saya lihat itu, selalu ada saja satu hal yang saya nggak merasa sepaham dengannya ...

Juga dengan budaya. Saya ini tinggal di Jawa yang kadangkala sering merasa bingung dengan kemajemukan perkosakataan bahasanya. Itu semua dikontraskan dengan latar belakang saya yang emang sepenuh-penuhnya Jawa. Tapi kok saya ngerasa betah ya meski nggak banyak mengerti tentang bejibun kosakata itu?

Ah, pada akhirnya saya juga yang kepingin bertanya 'Emang kalau saya datang dari satu budaya tertentu, saya mesti ikutan jalannya itu budaya sampai ke detil-detilnya?' Saya pikir kok nggak juga. Sama seperti tiap kotak pemikiran yang mencoba memberi klasifikasi rapi pada setiap inspirasi-inspirasi manusia, budaya juga terkadang nggak cukup untuk menampung seseorang di dalamnya. Manusia jelas lebih rumit dari sekedar satu set nilai yang dianut agregat. Apalagi di waktu seperti sekarang, di mana pertukaran nilai dan pemikiran bisa berlangsung begitu cepat, mudah dan murah, saya pikir tiap manusia punya kapasitas (dan hak) untuk jadi trans-budaya. Trans-nilai.

Well... pada akhirnya, saya tetep nggak bisa tuh mendefinisikan diri sendiri ini ... yah, trans nilai, trans budaya, trans pemikiran. Mungkin itulah saya.. hehehe ^^

Wednesday, March 4, 2009

Penat

Penat sekali pagi ini. Sampai-sampai benak yang biasanya dipenuhi dengan pemikiran serba iseng ini tiba-tiba bisa merasakan nyamannya diam :) Menyimpan segala sesuatu dalam benak. Sejenak berhenti dalam pikir, mungkin setidak-tidaknya untuk beberapa menit ke depan.